Home | Gallery | Photo Story | View Photo Story
Harap Login untuk melihat foto full resolution
Anda melihat thumbnail foto karena Anda tidak login ke situs ini. Silakan login menggunakan form login di bagian atas halaman ini.
Prajurit Bukit Matahari : Benteng Adat dan Benteng Budaya
Rabu, 19 Des 2018 10:30   ⚫   Gathot Subroto   ⚫   Dilihat: 2851   ⚫   Komentar: 0
Harap Login untuk melihat foto full resolution
Anda melihat thumbnail foto karena Anda tidak login ke situs ini. Silakan login menggunakan form login di bagian atas halaman ini. Nun jauh di Fanayama, Nias Selatan, di sebuah puncak bukit tertinggi terdapat sebuah desa adat yang diberi nama Bawomataluo atau Bukit Matahari. Desa dengan gerbang 86 anak tangga dari batu yang telah berusia ratusan tahun ini menjadi salah satu desa adat yang masih bisa bertahan menjaga warisan adat Hombo Batu (Lompat Batu) dan Tari Baluse (Tari Perang).

Sejarah panjang Nias yang mengahruskan setiap kerajaan untuk selalu siap berperang, menjadikan seluruh pemuda dan laki-laki Nias berlomba untuk menjadi prajurit yang tangguh dan kuat. Pemuda yang sudah dapat melompati batu setinggi 2 meter, akan menjadi prajurit kebanggaan yang akan berdiri digaris depan ketika berperang. Mereka adalah benteng adat yang selalu siap menjaga keutuhan dan kedaulatan kerajaan.

Jaman berganti dan sejarah telah terlewati, ketika peradaban telah berkembang dan perang talah berganti menjadi perdamaian dan hidup bermusuhan menjadi hidup bersama dan saling menghormati, budaya tari perang pun berada di persimpangan, bertahan atau tidak, berhenti atau mau dibawa kemana.

Beberapa desa adat telah kehilangan budaya ini, bahkan para pemuda pun lambat laun meninggalkan kebanggaan untuk menjadi prajurit Hombo Batu dan Tari Perang, permainan modern seperti bola voli, tenis meja telah menggantikan hombo batu, televisi dan telepon genggam menjadikan para pemuda terlupa dengan tarian perang-nya.
Bawomataluo, menjadi satu dari sedikit desa adat yang masih bisa mempertahankan budayanya, kecintaan terhadap akar budaya dan ke-Nias-an telah menjadikan para penduduk di Bawomataluo untuk selalu menjaga tradisi tari perangnya.

Salah seorang prajurit di Bawomataluo berbagi kisah akan kebanggaan dan keikhlasannya menjadi prajurit tari perang dan niatnya untuk selalu menanamkan kebanggaan itu kepada generasi selanjutnya. Prajurit itu adalah Pak Tofen, tinggal di salah satu rumah adat di sudut Bawomataluo, beliau selalu siap setiap saat untuk dipanggil panglima perangnya untuk melakukan teri perang. Pak Tofen adalah salah satu bekas pelompat batu nomor satu pada masanya, tak heran jika Ia menduduki posisi terdepan dalam tari perang. Beberapa kali telah diikutkan dalam utusan dalam berbagai kegiatan promosi budaya Nias, bahkan sempat menunjukkan kebolehannya pada acara Kuantum Megalitikum di Bali beberapa tahun lalu.

Dengan bangga Ia mengenakan pakaian perang kebanggaannya, seolah mau bertempur yang sebenarnya, diselipkannya pedang perangnya, dengan khusyuk dikalungkannya kalabubu dan mahkotanya. Sejenak bercermin dan sebelum berangkat disempatkannya mengangkat anaknya penuh harap sebagai penerusnya nanti. Dengan langkah tegap Pak Tofen menuju pelataran dan bergabung dengan pasukan untuk bersiap memulai baluse atau tarian perangnya.

Tarian perang dilakoninya dengan sepenuh jiwa, berteriak lantang, meloncat seraya mengunus pedangnya serta membentuk formasi dengan gesit dan harmonis. Begitu kolosal dan indah tarian tersebut seolah berteriak kepada dunia bahwa Nias masih ada dan masih kuat.
Kebanggan Bawomataluo, kebanggan Nias, kebanggan Indonesia dan kebanggaan kita semua. Bawomataluo telah menjadi contoh bagi desa adat lainnya di Nias untuk mulai belajar “tersenyum” terhadap pengunjung, sekaligus dapat membuktikan (setidaknya sampai saat ini) bahwa dengan bersikap ramah serta memandang jauh kedepan berarti budaya adat akan tetap terjaga.

Begitulah Pak Tofen berfikir dan berharap. Meski kekhawatiran akan kesadaran generasi muda setiap tahun mulai menurun, Ia akan berusaha untuk memulai dari anak-anaknya untuk berlatih hombo batu dan tari perang, sekaligus menanamkan kebanggan Bawomataluo kepada anaknya. Karena hanya dengan bangga akan budaya adatnya, maka Bukit Matahari akan selalu bersinar dan menarik wisatawan.

   
Photo Story Lain

Warning: mt_rand(): max(0) is smaller than min(1) in /home/kemilaui/public_html/gallery/story/view.php on line 474

Warning: mysqli_fetch_assoc() expects parameter 1 to be mysqli_result, boolean given in /home/kemilaui/public_html/gallery/story/view.php on line 477